Lensa69

Aku Mendapatkan Gairah Dari Anak Kawanku & Temannya

Aku Mendapatkan Gairah Dari Anak Kawanku & Temannya

Aku punya sahabat namanya Grace kami jarang bertemu atau berjumpa sejak kami sudah berkeluarga hingga anak kami bertumbuhya dewasa tapi kami selalu telpon atau sms menanyakan kabar jadi jalinan persahabatan kami masih berlanjut sampai sekarang, ada saja yang kami bicarakan dari tanya kabar anaknya, orang tuanya dan lain sebagainya.

Pada hari sabtu pagi Grace menelponku katanya dia habis pulang dari Magelang kota kelahirannya dia
membawakan oleh oleh kecil untuk keluargaku.

Katanya Anaknya yang bernama Karno akan menggantarkan oleh olehnya kerumahku kalau aku tidak keluar,

Ah terimakasih Grace sudah mengasih oleh oleh. Pasti dia membawa gethuk kesukaanku khas makanan
magelang, Aku pun tidak keluar menunggu kedatangan Karno kerumahku, yang mana hampir 15 tahun aku tidak pernah melihat Karno.

Malam itu Datanglah yang memakai mobil Jeep masuk kedalam rumahku, kuintip dari jendela. Dua orang
anak tanggung turun dari jeep itu. Mungkin si Karno datang bersama temannya. Ah, jangkung bener anak
Grace. Aku buka pintu. Dengan sebuah bingkisan si Karno naik ke teras rumah

“Selamat siang, Tante. Ini titipan mama untuk Tante Mely. Kenalin ini Dedi teman saya, Tante”. Karno
menyerahkan kiriman dari mamanya dan mengenalkan temannya padaku. Aku sambut gembira mereka.

Oleh-oleh Grace dan langsung Aku simpan di lemari es-ku biar nggak basi. Aku terpesona saat melihat
anak Grace yang sudah demikian gede dan jangkung itu. Dengan gaya pakaian dan rambutnya yang trendy
sungguh keren anak sahabatku ini.

Demikian pula si Dedi temannya, mereka berdua adalah pemuda-pemuda masa kini yang sangat tampan dan
simpatik. Ah, anak jaman sekarang, mungkin karena pola makannya sudah maju pertumbuhan mereka jadi
subur. Mereka Aku ajak masuk ke rumah. Kubuatkan minuman untuk mereka.

Kuperhatikan mata si Dedi agak nakal, dia pelototi bahuku, buah dadaku, leherku. Matanya mengikuti
apapun yang sedang Aku lakukan, saat Aku jalan, saat Aku ngomong, saat Aku mengambil sesuatu.

Ah, maklum anak laki-laki, kalau lihat perempuan yang agak melek, biar sudah tua macam Aku ini,
tetap saja matanya melotot. Dia juga pinter ngomong lucu dan banyak nyerempet-nyerempet ke masalah
seksual. Dan si Karno sendiri senang dengan omongan dan kelakar temannya. Dia juga suka nimbrung,
nambahin lucu sambil melempar senyuman manisnya.

Kami jadi banyak tertawa dan cepat saling akrab. Terus terang Aku senang dengan mereka berdua. Dan
tiba-tiba Aku merasa berlaku aneh, apakah ini karena naluri perempuanku atau dasar genitku yang nggak
pernah hilang sejak masih gadis dulu, hingga teman-temanku sering menyebutku sebagai perempuan gatal.
Dan kini naluri genit macam itu tiba-tiba kembali hadir

Mungkin hal ini disebabkan oleh tingkah si Dedi yang seakan-akan memberikan celah padaku untuk
mengulangi peristiwa-peristiwa masa muda. Peristiwa-peristiwa penuh gairah yang selalu mendebarkan
jantung dan hatiku.

Ah, dasar perempuan tua yang nggak tahu diri, makian dari hatiku untukku sendiri. Tetapi gebu libidoku
ini demikian cepat menyeruak ke darahku dan lebih cepat lagi ke wajahku yang langsung terasa bengap
kemerahan menahan gejolak gairah mengingat masa laluku itu.

“Tante, jangan ngelamun. Cicak jatuh karena ngelamun, lho”. Kami kembali terbahak mendengar kelakar
Karno. Dan kulihat mata Dedi terus menunjukkan minatnya pada bagian-bagian tubuhku yang masih mulus
ini.

Dan Aku tidak heran kalau anak-anak muda macam Dedi dan Karno ini demen menikmati penampilanku.
Walaupun usiaku yang memasuki tahun ke 36 Aku tetap “fresh” dan “good looking”. Aku memang suka
merawat tubuhku sejak muda. Boleh dibilang tak ada kerutan tanda ketuaan pada bagian-bagian tubuhku. Kalau Aku jalan sama anak-anak muda ini,
suamiku, banyak yang mengira Aku anaknya atau bahkan “piaraan”nya. Kurang asem, tuh orang.

Dan suamiku sendiri sangat membanggakan kecantikkanku. Kalau dia berkesempatan untuk membicarakan
istrinya, seakan-akan memberi iming-iming pada para pendengarnya hingga Aku tersipu walaupun dipenuhi
rasa bangga dalam hatiku.

Beberapa teman suamiku nampak sering tergoda untuk mencuri pandang padaku. Tiba-tiba Aku ada ide untuk
menahan kedua anak ini.

“Hai, bagaimana kalau kalian makan siang di sini. Aku punya resep masakan yang gampang, cepat dan sedap. Sementara Aku masak kamu bisa ngobrol, baca tuh majalah atau pakai tuh, komputer si om. Kamu
bisa main game, internet atau apa lainnya. Tapi jangan cari yang ‘enggak-enggak’, ya..”, Aku tawarkan
makan siang pada mereka.

Tanpa konsultasi dengan temannya si Dedi langsung iya saja. Aku tahu mata Dedi ingin menikmati
sensual tubuhku lebih lama lagi.

Si Karno ngikut saja apa kata Dedi. Sementara mereka buka komputer Aku ke dapur mempersiapkan
masakanku. Aku sedang mengiris sayuran ketika tahu-tahu Dedi sudah berada di belakangku. Dia
menanyaiku, “Tante dulu teman kuliah mamanya Karno, ya. Kok kayanya jauh banget, sih?”.

“Apanya yang jauh?, Aku tahu maksud pertanyaan Dedi.

“Iya, Tante pantesnya se-umur dengan teman-temanku”.

“Gombal, ah. Kamu kok pinter nge-gombal, sih, Ded”.

“Bener. Kalau nggak percaya tanya, deh, sama Karno”, lanjutnya sambil melototi pahaku.

“Tante hobbynya apa?”.

“Berenang di laut, skin care dan scuba diving, makan sea food, makan sayuran, nonton Discovery di TV”.

“Ooo, pantesan”.

“Apa yang pantesan?”, sergapku.

“Pantesan body Tante masih mulus banget”.

Kurang asem Dedi ini, tanpa kusadari dia menggiring Aku untuk mendapatkan peluang melontarkan kata-
kata “body Tante masih mulus banget” pada tubuhku. Tetapi Aku tak akan pernah menyesal akan giringan
Dedi ini.

Tante Mely

Dan reaksi naluriku langsung membuat darahku terasa serr.., libidoku muncul terdongkrak. Setapak demi
setapak Aku merasa ada yang bergerak maju. Dedi sudah menunjukkan keberaniannya untuk mendekat ke Aku
dan punya jalan untuk mengungkapkan kenakalan ke-lelakian-nya.

“Ah, mata kamu saja yang keranjang”, jawabku yang langsung membuatnya tergelak-gelak.

“Papa kamu, ya, yang ngajarin?, lanjutku.

“Ah, Tante, masak kaya gitu aja mesti diajarin”.

Ah, cerdasnya anak ini, kembali Aku merasa tergiring dan akhirnya terjebak oleh pertanyaanku sendiri.

“Memangnya pinter dengan sendirinya?”, lanjutku yang kepingin terjebak lagi.

“Iya, dong, Tante. Aku belum pernah dengar ada orang yang ngajari gitu-gitu-an”.

Ah, kata-kata giringannya muncul lagi, dan dengan senang hati kugiringkan diriku.

“Gitu-gituan gimana, sih, Dedi sayang?”, jawabku lebih progresif.

“Hoo, bener sayang, nih?”, sigap Dedi.

“Habis kamu bawel, sih”, sergahku.

“Sudah sana, temenin si Karno tuh, n’tar dia kesepian”, lanjutku.

“Si Karno, mah, senengnya cuma nonton”, jawabnya.

“Kalau kamu?”, sergahku kembali.

“Kalau saya, action, Tante sayang”, balas sayangnya.

“Ya, sudah, kalau mau action, tuh ulek bumbu tumis di cobek, biar masakannya cepet mateng”, ujarku
sambil memukulnya dengan manis.

“Oo, beres, Tante sayang”, dia tak pernah mengendorkan serangannya padaku.

Kemudian dia menghampiri cobekku yang sudah penuh dengan bumbu yang siap di-ulek. Beberapa saat
kemudian Aku mendekat ke dia untuk melihat hasil ulekannya.

“Uh, baunya sedap banget, nih, Tante. Ini bau bumbu yang mirip Tante atau bau Tante yang mirip
bumbu?”.

Kurang asem, kreatif banget nih anak, sambil ketawa ngakak kucubit pinggangnya keras-keras hingga dia
aduh-aduhan. Seketika tangannya melepas pengulekan dan menarik tanganku dari cubitan di pinggangnya
itu.

Saat terlepas tangannya masih tetap menggenggam tanganku, dia melihat ke mataku. Ah, pandangannya itu
membuat Aku gemetar. Akankah dia berani berbuat lebih jauh? Akankah dia yakin bahwa Aku juga
merindukan kesempatan macam ini? Akankah dia akan mengisi gejolak hausku? Petualanganku? Gairah
gairahku?

Aku tidak memerlukan jawaban terlampau lama. Bibir Dedi sudah mendarat di bibirku. Kini kami sudah
berpagutan dan kemudian saling melumat. Dan tangan-tangan kami saling berpeluk. Dan tanganku meraih
kepalanya serta mengelusi rambutnya.

Dan tangan Dedi mulai bergeser menerobos masuk ke blusku. Dan tangan-tangan itu juga menerobosi BH-ku
untuk kemudian meremasi payudaraku. Dan Aku mengeluarkan desahan nikmat yang tak terhingga. Nikmat
kerinduan gairah menggauli anak muda yang seusia anakku, 22 tahun di bawah usiaku.

“Tante, Aku gairah banget lihat body Tante. Aku pengin menciumi body Tante. Aku pengin menjilati body
Tante. Aku ingin menjilati kemaluan Tante. Aku ingin ngentot Tante”.

Ah, binalnya mulutnya. Kata-kata binal Dedi melahirkan sebuah sensasi erotik yang membuat Aku
menggelinjang hebat. Kutekankan selangkanganku mepet ke selangkangnnya hingga kurasakan ada jendolan
panas yang mengganjal. Pasti kemaluan Dedi sudah ngaceng banget. Kuputar-putar pinggulku untuk merasakan tonjolannya lebih dalam lagi. Dedi mengerang.Dengan tidak
sabaran dia angkat dan lepaskan blusku. Sementara blus masih menutupi kepalaku bibirnya sudah mendarat
ke ketiakku.

Dia lumati habis-habisan ketiak kiri kemudian kanannya. Aku merasakan nikmat di sekujur urat-uratku.
Dedi menjadi sangat liar, maklum anak muda, dia melepaskan gigitan dan kecupannya dari ketiak ke
dadaku.

Dia kuak BH-ku dan keluarkan buah dadaku yang masih nampak ranum. Dia isep-isep bukit dan pentilnya
dengan penuh gairah. Suara-suara erangannya terus mengiringi setiap sedotan, jilatan dan gigitannya.

Sementara itu tangannya mulai merambah ke pahaku, ke selangkanganku. Dia lepaskan kancing-kancing
kemudian dia perosotkan hotpants-ku. Aku tak mampu mengelak dan Aku memang tak akan mengelak.

Gairahku sendiri sekarang sudah terbakar hebat. Gelombang dahsyat gairahku telah melanda dan
menghanyutkan Aku. Yang bisa kulakukan hanyalah mendesah dan merintih menanggung derita dan siksa
nikmat gairahku.

Begitu hotpants-ku merosot ke kaki, Dedi langsung setengah jongkok menciumi celana dalamku. Dia
kenyoti hingga basah kuyup oleh ludahnya. Dengan gairah besarnya yang kurang sabaran tangannya
memerosotkan celana dalamku. Kini bibir dan lidahnya menyergap kemaluan, bibir dan kelentitku. Aku jadi
ikutan tidak sabar.

“Dedi, Tante udah gatal banget, nih”.

“Copot dong celanamu, Aku pengin menciumi kamu punya, kan”.

Dan tanpa protes dia langsung berdiri melepaskan celana panjang berikut celana dalamnya. kemaluannya
yang ngaceng berat langsung mengayun seakan mau nonjok Aku. Kini Aku ganti yang setengah jongkok,
kukulum kemaluannya.

Dengan sepenuh gairahku Aku jilati ujungnya yang sobek merekah menampilkan lubang kencingnya. Aku
merasakan precum asinnya saat Dedi menggerakkan pantatnya ngentot mulutku. Aku raih pahanya biar arah
kemaluannya tepat ke lubang mulutku.

“Tante, Aku pengin sodok memek Tante sekarang”. Aku tidak tahu maunya, belum juga Aku puas mengulum
kemaluannya dia angkat tubuhku. Dia angkat satu kakiku ke meja dapur hingga kemaluanku terbuka. Kemudian
dia tusukkannya kemaluannya yang lumayan gede itu ke kemaluanku.

Aku menjerit tertahan, sudah lebih dari 3 bulan, suamiku nggak nyenggol-nyenggol Aku. Yang
sibuklah, yang rapatlah, yang golflah. Terlampau banyak alasan untuk memberikan waktunya padaku.

Kini kegatalan kemaluanku terobati, Kocokkan kemaluan Dedi tanpa kenal henti dan semakin cepat. Anak
muda ini maunya serba cepat. Aku rasa sebentar lagi air maninya pasti muncrat, sementara Aku masih belum
sepenuhnya puas dengan entotannya.

Aku harus menunda agar gairah Dedi lebih terarah. Aku cepat tarik kemaluanku dari tusukkannya, Aku
berbalik sedikit nungging dengan tanganku bertumpu pada tepian meja. Aku pengin dan mau Dedi nembak
kemaluanku dari arah belakang. Ini adalah gaya favoritku.

Biasanya Aku akan cepat orgasme saat dientot suamiku dengan cara ini. Dedi tidak perlu menunggu
permintaanku yang kedua. kemaluannya langsung di desakkan ke kemaluanku yang telah siap untuk melahap
kemaluannya itu.

Nah, Aku merasakan enaknya kemaluan Dedi sekarang. Pompaannya juga lebih mantab dengan pantatku yang
terus mengimbangi dan menjemput setiap tusukan kemaluannya. Ruang dapur jadi riuh rendah.
Selintas terpikir olehku, di mana si Karno. Apakah dia masih berkutat dengan komputernya? Atau dia
sedang mengintip kami barangkali? Tiba-tiba dalam ayunan kemaluannya yang sudah demikian keras dan
berirama Dedi berteriak.

“Dang, Karno, ayoo, bantuin Aku .., Dang..”.

Ah, kurang asem anak-anak ini. Jangan-jangan mereka memang melakukan konspirasi untuk menyetubuhiku saat
ada kesempatan disuruh mamanya untuk mengirimkan oleh-oleh itu. Kemudian kulihat Karno dengan tenangnya
muncul menuju ke dapur dan berkata ke Dedi

“Aku kebagian apanya Ded?’

“Tuh, lu bisa ngentot mulutnya. Dia mau kok”.

Duh, kata-kata binal yang mereka ucapkan dengan kesan seolah-olah Aku ini hanya obyek mereka. Dan
anehnya ucapan-ucapan yang sangat tidak santun itu demikian merangsang gairah gairahku, sangat eksotik
dalam khayalku. Aku langsung membayangkan seolah-olah Aku ini anjing mereka yang siap melayani apapun
kehendak pemiliknya.

Aku melenguh keras-keras untuk merespon gaya mereka itu. Kulihat dengan tenangnya Karno mencopoti
celananya sendiri dan lantas meraih kepalaku dengan tangan kirinya, dijambaknya rambutku tanpa
menunjukkan rasa hormat padaku yang adalah teman mamanya itu.

Untuk kemudian ditariknya mendekat ke kemaluannya yang telah siap dalam genggaman tangan kanannya.
kemaluan Karno nampak kemerahan mengkilat. Kepalanya menjamur besar diujung batangnya.

Saat bibirku disentuhkannya aroma kemaluannya menyergap hidungku yang langsung membuat Aku kelimpungan
untuk selekasnya mencaplok kemaluan itu. Dengan penuh kegilaan Aku lumati, jilati kulum, gigiti
kepalanya, batangnya, pangkalnya, biji pelernya.

Tangan Karno terus mengendalikan kepalaku mengikuti keinginannya. Terkadang dia buat maju mundur agar
mulutku memompa, terkadang dia tarik keluar kemaluannya menekankan batangnya atau pelernya agar Aku
menjilatinya.

Duh, Aku mendapatkan sensasi kenikmatan seksualku yang sungguh luar biasa. Sementara di belakang sana
si Dedi terus menggenjotkan kemaluannya keluar masuk menembusi kemaluannya sambil jari-jarinya mengutik-
utik dan disogok-sogokkannya ke lubang pantatku yang belum pernah Aku mengalami cara macam itu. Oke,
suamiku adalah lelaki konvensional.

Saat dia menggauliku dia lakukan secara konvensional saja. Sehingga saat Aku merasakan bagaimana
perbuatan teman dan anak sahabatku ini Aku merasakan adanya sensasi baru yang benar-benar hebat
melanda Aku.

Kini 3 lubang erotis yang ada padaku semua dijejali oleh gairah gairah mereka. Aku benar-benar jadi
lupa segala-galanya. Aku mengenjot-enjot pantatku untuk menjemputi kemaluan dan jari-jari tangan Dedi
dan mengangguk-anggukkan kepalaku untuk memompa kemaluan Karno.

“Ah, Tante, mulut Tante sedap banget, sih. Enak kan, kemaluanku. Enak, kan? Sama kemaluan Oom enak mana?
N’tar Tante pasti minta lagi, nih”

Dia percepat kendali tangannya pada kepalAaku. Ludahku sudah membusa keluar dai mulutku. kemaluan Karno
sudah sangat kuyup. Sesekali Aku berhenti sessat untuk menelan ludahku.

Tiba-tiba Dedi berteriak dari belakang, “Aku mau keluar nih, Tante. Keluarin di memek atau mau
diisep, nih?”.

Ah, betapa nikmatnya bisa meminum air mani anak-anak ini. Mendengar teriakan Dedi yang nampak sudah
kebelet mau muncratkan air maninya,

Aku buru-buru lepaskan kemaluan Karno dari mulutku. Aku bergerak dengan cepat jongkok sambil mengangakan
mulutku tepat di ujung kemaluan Dedi yang kini penuh giat tangannya mengocok-ocok kemaluannya untuk
mendorong agar air maninya cepat keluar.

Kudengar mulutnya terus meracau, “Minum air maniku, ya, Tante, minum ya, minum, nih, Tante, minum ya,
makan air maniku ya, Tante, makan ya, enak nih, Tante, enak nih air maniku, Tante, makan ya..”.

Air mani Dedi muncrat-muncrat ke wajahku, ke mulutku, ke rambutku. Sebagian lain nampak mengalir di
batang dan tangannya. Yang masuk mulutku langsung Aku kenyam-kenyam dan kutelan. Yang meleleh di
batang dan tanganannya kujilati kemudian kuminum.

Kemudian dengan jari-jarinya Dedi mengorek yang muncrat ke wajahku kemudian disodorkannya ke mulutku
yang langsung kulumati jari-jarinya itu. Ternyata saat Karno menyaksikan apa yang dikerjakan Dedi dia
nggak mampu menahan diri untuk mengocok-ocok juga kemaluannya.

 

Ngentot Dengan Tante Mely

Dan beberapa saat sesudah kemaluan Dedi menyemprotkan air maninya, menyusul kemaluan Karno memuntahkan
banyak air maninya ke mulutku.

Aku menerima semuanya seolah-olah ini hari pesta ulang tahunku. Aku merasakan rasa yang berbeda,
air mani Dedi serasa madu manisnya, sementara air mani Karno sangat gurih seperti air kelapa muda.

Dasar anak muda, gairah mereka tak pernah bisa dipuaskan. Belum sempat Aku istirahat mereka mengajak
Aku ke ranjang pengantinku. Mereka nggak mau tahu kalau Aku masih mengagungkan ranjang pengantinku
yang hanya suamiku boleh ngentot Aku di atasnya. Setengahnya mereka menggelandang Aku memaksa
menuju kamarku.

Aku ditelentangkannya ke kasur dengan pantatku berada di pinggiran ranjang. Karno menjemput satu
tungkai kakiku yang dia angkatnya hingga nempel ke bahunya.

Dia tusukan kemaluannya yang tidak surut ngacengnya sesudah sedemikian banyak menyemprotkan air mani untuk
menyesaki kemaluanku, kemudian dia pompa kemaluanku dengan cepat kesamping kanan, kiri, ke atas, ke bawah
dengan penuh irama.

Aku merasakan ujungnya menyentuh dinding rahimku dan Aku langsung menggelinjang dahsyat. Pantatku naik
turun menjemput tusukan-tusukan kemaluan legit si Karno. Sementara itu Dedi menarik tubuhku agar
kepalaku bisa menciumi dan mengisap kemaluannya. Kami bertiga kembali mengarungi samudra nikmatnya
gairah yang nikmatnya tak terperi.

Hidungku menikmati banget aroma yang menyebar dari selangkangan Dedi. Jilatan lidah dan kuluman
bibirku liar melata ke seluruh kemaluan Dedi.

Kemudian untuk memenuhi kehausanku yang amat sangat, paha Dedi kuraih ke atas ranjang sehingga satu
kakinya menginjak ke kasur dan membuat posisi pantatnya menduduki wajahku. Dengan mudah tangan Dedi
meraih dan meremasi susu-susu dan pentilku.

Sementara hidungku setengah terbenam ke celah pantatnya dan bibirku tepat di bawah akar pangkal
kemaluannya yang keras menggembung.

Aku menggosok-gosokkan keseluruhan wajahku ke celah bokongnya itu sambil tangan kananku ke atas untuk
ngocok kemaluan Dedi. Duh, Aku kini tenggelam dalam aroma nikmat yang tak terhingga. Aku menjadi
kesetanan menjilati celah pantat Dedi.

Aroma yang menusuk dari pantatnya semakin membuat Aku liar tak terkendali. Sementara di bawah sana
Karno yang rupanya melihat bagaimana Aku begitu liar menjilati pantat Dedi langsung dengan buasnya
menggenjot kemaluanku. Dia memperdengarkan racauan nikmatnya,

“Tante, kemaluanmu enak, Tante, kemaluanmu Aku entot, Tante, kemaluanmu Aku entot, ya, enak, nggak?, Enak
ya, kemaluanku, enak Tante, kemaluanku?”. Aku juga membalas erangan, desahan dan rintihan nikmat yang
sangat dahsyat. Dan ada yang rasa yang demikian exciting merambat dari dalam kemaluanku.

Aku tahu orgasmeku sedang menuju ke ambang puncak kepuasanku. Gerakkanku semakin menggila, semakin
cepat dan keluar dari keteraturan. Kocokkan tanganku pada kemaluan Dedi semakin kencang. Naik-naik
pantatku menjemputi kemaluan Karno semakin cepat, semakin cepat, cepat, cepat, cepat.

Dan teriakanku yang rasanya membahana dalam kamar pengantinku tak mampu kutahan, meledak menyertai
bobolnya pertahanan kemaluanku. Cairan gairahku tumpah ruah membasah dan membusa mengikuti batang
kemaluan yang masih semakin kencang menusukki kemaluanku.

Dan Aku memang tahu bahwa Karno juga hendak melepas air maninya yang kemudian dengan rintihan nikmatnya
akhirnya menyusul sedetik sesudah cairan gairahku tertumpah. Kakiku yang sejak tadi telah berada dalam
pelukannya disedoti dan gigitinya hingga meninggalkan cupang-cupang kemerahan.

Sementara Dedi yang sedang menggapai menuju puncak pula, meracau agar Aku mempercepat kocokkan
kemaluannya sambil tangannya keras-keras meremasi buah dadaku hingga Aku merasakan pedihnya. Dan saat
puncaknya itu akhirnya datang, dia lepaskan genggaman tanganku untuk dia kocok sendiri kemaluannya
dengan kecepatan tinggi hingga air maninya muncrat semburat tumpah ke tubuhku.

Aku yang tetap penasaran, meraih batang yang berkedut-kedut itu untuk kukenyoti, mulutku mengisap-isap
cairan maninya hingga akhirnya segalanya reda. Jari-jari tanganku mencoleki air mani yang tercecer di
tubuhku untuk Aku jilat dan isap guna mengurangi dahaga gairahku.

Sore harinya, walaupun Aku belum sempat merasakan getuk kirimannya yang kini berada dalam lemari esku
dengan penuh semangat dan terima kasih Aku menelepon Grace.

“Wah, terima kasih banget atas kirimannya, ya. Karena sudah lama Aku tidak merasakannya, huh, nikmat
banget rasanya. Ada gurihnya, ada manisnya, ada legitnya”, kataku sambil selintas mengingat kenikmatan
yang Aku raih dari Karno anaknya dan Dedi temannya.

tertawa senang sambil menjawab, “Nyindir, ya. Memangnya kerajinan tanduk dari Pucang (sebuah desa
di utara Magelang yang menjadi pusat kerajinan dari tanduk kerbau) itu serasa getuk kesukaanmu itu.

N’tar deh kalau Aku pulang lagi, kubawakan sekeranjang getukmu”.
Aku tersedak dan terbatuk-batuk. Mati Aku, demikian pikirku. Ternyata bingkisan dalam kulkas itu bukan
getuk kesukaanku.